24 Februari 2009

bayi dengan resiko tinggi untuk mengalami gangguan pendengaran



Penulis: Hardiono Pusponegoro
Alamat: Klinik Anakku Kelapa Gading

Bayi 0-28 hari
• Adanya keluarga yang mengalami gangguan pendengaran
• Infeksi dalam kandungan yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran: toxoplasma, cytomegalovirus, rubella
• Kelainan bentuk wajah, bentuk wajah yang “aneh”
• Berat badan lahir kurang dari 1500 gram
• Hiperbilirubinemia atau kuning saat lahir
• Mendapat obat yang mengganggu pendengaran misalnya gentamycin
• Mengalami meningitis bakterialis atau radang selaput otak
• Skor Apgar rendah
• Dirawat di ICU, terutama bila menggunakan alat bantu napas

Umur 29 hari sampai 2 tahun
• Adanya kecurigaan gangguan pendengaran, bicara, bahasa, atau keterlambatan perkembangan
• Meningitis bakterialis
• Benturan kepala, terutama disertai retak tulang di pelipis
• Adanya penyakit yang berhubungan dengan gangguan pendengaran
• Menggunakan obat yang mengganggu pendengaran
• Penyakit saraf degeneratif
• Penyakit infeksi telinga

Sumber: Emedicine, artikel oleh Rahul K Shah

baca selanjutnya...

anakku dapat mendengar? perhatikan red flags berikut



Penulis:Hardiono Pusponegoro
Alamat:Klinik Anakku Kelapa Gading

0-6 bulan
• Tidak terkejut atau terbangun saat ada suara keras
• Sudah diduga ada gangguan pendengaran dengan Otoacoustic emission test
• Tidak bereaksi terhadap perubahan nada bicara
• Mengalami keterlambatan perkembangan saraf atau motorik

9 bulan
• Hanya mengeluarkan suara huruf hidup “aaa,” padahal seharusnya sudah mengeluarkan suara kombinasi huruf mati dan huruf hidup misalnya “mamam” atau “bah.”

12 bulan
• Belum ada babbling “ba-ba-ba” atau “daa-daa”
• Tidak melirik atau menunjuk untuk mengkomunikasikan minat atau meminta sesuatu

18 bulan
• Tidak dapat mengucapkan 10 kata yang berarti
• Adanya dugaan autisme

24 bulan
• Tidak dapat mengucapkan 50 kata
• Belum dapat membuat kalimat terdiri dari 2 kata
• Tidak dapat mengikuti petunjuk yang diminta, misalnya “dorong bolanya”
• Tidak menunjuk ke anggota tubuh atau gambar yang diminta
• Ucapannya sulit dimengerti
• Adanya dugaan autisme

36 bulan
• Hanya mengeluarkan satu kata atau dua kata, padahal sebenarnya sudah dapat membuat kalimat pendek terdiri dari 3-4 kata
• Tidak dapat menjawab pertanyaan “apa,” “siapa”
• Tidak memulai pembicaraan, bicara hanya bila ditanya, atau hanya mengulang ucapan orang lain
• Kata-katanya sulit dimengerti. Orang yang tidak serumah hanya dapat mengerti kurang dari 50% kata yang diucapkannya
• Adanya dugaan autisme

4 tahun
• Belum bisa menceritakan kejadian kemarin, besok, orang lain atau benda yang tidak terlihat di depannya
• Kata-katanya terbalik-balik atau tidak lengkap
• Tidak dapat mengikuti 2 arah yang diminta berturutan
• Tidak dapat menceritakan kembali 2-3 paragraf cerita yang sudah didengarnya
• Kontak mata sedikit dan kurang berminat dalam interaksi
• Tidak menoleh bila dipanggil, atau tidak bereaksi terhadap “da-dah’” “tidak boleh”

5 tahun
• Hanya dapat membuat kalimat pendek terdiri dari 3-4 kata
• Banyak bicara tetapi tidak berkomunikasi atau membuat komentar yang relevan
• Tidak dapat menjawab “bagaimana” dan “mengapa”
• Tidak dapat menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan hal kemarin atau akan datang
• Bicaranya sulit dimengerti

Sumber: Washington State Medical Home

baca selanjutnya...

perkembangan pendengaran

Penulis: Hardiono Pusponegoro
Alamat: Klinik Anakku Kelapa Gading

Dalam kandungan

Bayi sudah mulai mendengar

1-3 bulan
• Terbangun bila ada suara
• Terkejut mendengar suara keras
• Mengedipkan mata atau melebarkan mata bila mendengar suara

3-6 bulan
• Dapat melokasi suara dan menoleh ke arah suara
• Menjadi tenang bila mendengar suara ibu
• Mengeluarkan suara “ooo,” “aaah”

6-10 bulan
• Mengeluarkan suara “bababa” atau “mamamam”
• Menoleh bila dipanggil atau mendengar suara yang sering didengar, misalnya suara dering telepon
• Memberi respons senang bila mendengar musik dan nyanyian
• Senang dengan mainan yang mengeluarkan suara
• Mulai meniru bicara dan suara misalnya “ck ck ck”

10-15 bulan
• Menunjuk ke arah suatu gambar bila diminta
• Mengulang suara dan kata
• Mengerti “tidak boleh” dan “da-dah”

15-18 bulan
• Melokasi suara dari arah mana saja
• Mengikuti petunjuk yang diminta dengan bicara, misalnya “dorong bola itu kesini”

18-24 bulan
• Bernyanyi bersama
• Memberi respons bila dipanggil dari kamar lain
• Menunjuk ke anggota tubuh bila diminta

Referensi: Washington State Medical Home

baca selanjutnya...

otak kanan dan otak kiri, seimbangkan!

Penulis: dr. I Made Indra Waspada

Tahukah Anda bahwa kedua belahan otak kita mengatur fungsi yang berbeda?

Profesor Robert Orsntein dari Universitas California menyelesaikan penelitian yang hasilnya mempertegas perbedaan aktivitas-aktivitas yang dikendalikan oleh kedua belahan otak tersebut.

Ornstein menemukan bahwa apabila belahan otak yang “sering dipakai” dirangsang dan disuruh bekerja bersama belahan otak yang “jarang dipakai”, maka akan tercipta kemampuan dan efektifitas otak yang jauh lebih besar (tinggi).

Masing-masing dari dua belahan otak bertanggung jawab atas cara berpikir yang berbeda-beda dan mengkhususkan diri pada kemampuan-kemampuan tertentu, walaupun ada beberapa persilangan dan interaksi antara kedua sisi.

Proses berpikir otak kiri bersifat logis, sekuensial, linear, dan rasional. Sisi ini sangat teratur. Walaupun berdasarkan realitas, ia mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Cara berpikirnya sesuai untuk tugas-tugas teratur ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detail dan fakta, fonetik, serta simbolisme.


Cara berpikir otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik. Cara berpikirnya sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui yang bersifat nonverbal, seperti perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan dengan perasaan (merasakan kehadiran suatu benda atau orang), kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas dan visualisasi.

Mengapa harus digunakan seimbang?

Kedua belahan otak sama pentingnya. Orang yang memanfaatkan kedua belahan otak ini juga cenderung “seimbang” dalam setiap aspek kehidupan mereka.

Penemuan Ornstein ini memiliki makna khusus karena kebanyakan orangtua beranggapan bahwa anaknya pintar jika mereka pandai berhitung, membaca dan menulis. Anak yang pandai dalam urusan seni dianggap tidak intelek, bodoh, dan tidak ilmiah. Aggapan ini keliru.

Pendidikan di Indonesia seakan-akan lebih menitikberatkan pada fungsi otak kiri. Para siswa dituntut harus pintar dalam ilmu berhitung, membaca dan menulis. Mereka harus mengerjakan tugas-tugas berhitung dan menghapal, bahkan ada yang pada sore harinya harus mengikuti les tambahan pelajaran.

Untuk menyeimbangkan kecenderungan dominasi dari otak kiri, perlu dimasukkan musik, seni, estetika atau hal lain yang berhubungan dengan otak kanan dalam pengalaman belajar dan kehidupan anak. Semua itu menimbulkan emosi positif yang membuat otak lebih efektif. Emosi yang positif mendorong ke arah kekuatan otak, yang mengarah kepada keberhasilan.

Jika tidak melakukan upaya tertentu memasukkan beberapa aktivitas otak kanan dalam kehidupan anak Anda, dapat mengakibatkan anak stres dan mungkin mengakibatkan gangguan mental dan fisik.

Kreativitas maksimal

Kesimpulan yang dikemukakan oleh Ornstein adalah bahwa kita semua berpotensi untuk menjadi ilmuwan dan seniman hebat. Bila salah satu belahan otak kita kurang berfungsi, itu bukan karena tidak memiliki kemampuan melainkan hanya karena belahan otak itu tidak diberi peluang untuk berkembang.

Jadi, berikanlah buah hati Anda waktu dan kesempatan untuk melakukan hobi dan kegiatan yang disukainya sehingga mereka dapat memanfaatkan kedua belahan otak secara seimbang untuk menghasilkan kemampuan dan kreativitas yang lebih maksimal.

Referensi:
  • Team Yayasan Pendidikan Haster. Metode Pemanfaatan Keajaiban Otak. Cetakan pertama. Bandung: CV. Pionir Jaya. 1996
  • DePorter B, Hernacki M. Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Cetakan keempat. Bandung: Penerbit Kaifa. 1999

baca selanjutnya...